www.Bigoo.ws www.Bigoo.ws www.Bigoo.ws www.Bigoo.ws www.Bigoo.ws www.Bigoo.ws www.Bigoo.ws www.Bigoo.ws www.Bigoo.ws www.Bigoo.ws www.Bigoo.ws

Celoteh Gus Portnoy

Ajang Celotehan di Warung Kopi

Waktu Bagian Celoteh
Jadwal Sholat
Pembaca Celotehan
Who's Online
online
Online Casino
Scene of Memories
Mau bikin poster juga ? Klik disiniImage Hosted by 

ImageShack.us
Meet Penceloteh
Me on FriendsterImage Hosted by ImageShack.us Me on MySpaceImage Hosted by ImageShack.us
Ikutan Berceloteh Yuuk..
Name :
Web URL :
Message :
Rekan Penceloteh
Tamu Celotehan
Tuesday, March 13, 2007
Tingkat Kesabaran & Kedewasaan Tercermin di Jalan Raya - Part 2 -
Melanjutkan pembahasan sebelumnya nih..

Sebelumnya kan saya membahas soal sisi pengendara, nah disini saya mau membahas agak sedikit lebar nih, ke sisi pihak lain yang berkaitan (langsung atau tidak) dengan pengguna jalan.

Ini mungkin agak jauh ya, tapi bagi saya ini bisa menjadi salah satu sebab bagaimana sikap para pengendara bisa jadi ugal-ugalan di jalan raya (khususnya motor). Ini karena mereka merasa sebagai korban diskriminasi. Seperti terlihat di surat bikers ini. Terlihat banget kan sebnarnya si penulis surat yang mengatasnamakan bikers itu merasa jadi korban diskriminasi.

Saya juga pengendara motor dan sering merasakan hal ini (bukan seperti pemikiran si penulis surat itu ya), tapi saya merasa di diskriminasikan oleh pihak lain (pengelola gedung misalnya). Coba deh perhatikan, berapa banyak gedung-gedung perkantoran atau mall di seantero Jakarta ini yang memiliki parkiran motor yang nyaman (dalam artian sebenarnya ya) ? Sedikit sekali kan ? Kalau parkir motor pasti harus berdesak-desakan, harus rela bodi samping agak baret sedikit, atau kalau hujan, harus rela kecipratan air. Sedikit sekali pengelola gedung yang menyediakan sarana parkir motor yang layak, karena motor masih dianggap pengguna jalan kelas dua.

Bahkan saya sempat (dan sering) merasakan saat hendak berkunjung ke satu gedung atau hotel harus parkir di tempat yang agak jauh di luar gedung, ataupun harus berada di area basement yang sumpek bin pengap. Bahkan saya juga sering mendapati ada gedung/hotel/mall yang melarang motor untuk masuk dan parkir bahkan untuk sekedar lewat saja.

Bukankah sarana parkir itu adalah bagian dari Fasum (Fasilitas Umum) yang wajib disediakan oleh setiap gedung (Menurut peraturan tata kota dan bangunan). Sarana parkir itu harus untuk semua kendaraan, Mobil, motor dan angkutan barang.

Hal-hal seperti ini bisa memicu rasa disepelekan, di-anak tirikan dari pengendara motor yang akhirnya berimbas pada sikap mereka di jalan raya terhadap pengendara mobil (khususnya mobil mewah).. sekali lagi ini semua hanya pemikiran saya lho!

Saya salut terhadap beberapa gedung (walaupun belum sempurna sih) tapi sudah menyediakan fasilitas parkir yang cukup memadai bagi semua pengendara (mobil dan motor) bahkan ada juga gedung yang sudah menyediakan sarana parkir untuk pengendara sepeda lihat disini.

Jadi ini adalah usaha dan kerja keras dari semua pihak untuk menciptakan jalan yang nyaman dan aman bagi pengendara dan pemakai jalan.

Mari kita benahi semuanya ke arah yang lebih baik!

Labels:


Celotehan lengkapnya...
posted by Agung "Gus Portnoy" Sulendro @ 22:11  
Tingkat Kesabaran & Kedewasaan Tercermin di Jalan Raya
Sering banget saya dapet email dari temen-temen di milist soal info kebrutalan pengendara di jalan raya. Ada yang komplain soal aroganisme pengendara HD atau klub motor saat pawai, ada juga soal pengendara mobil yang ngebut dan mepet-mepet, dan lain macemnya gitu.

Sebagai seorang pemakai jalan yang hampir tiap hari selalu menggunakannya (entah menjadi bikers, pengendara mobilers atau cuma penumpang TiJe a.k.a busway), saya seringkali mengalami tempaan mental di jalan raya (dan bahkan tempaan skill, gak perlu ikut kursus pengemudi stunt-driver, tiap hari jalan di jalan Jakarta aja bikin jago kok.. hehehe). Saat jadi bikers, saya sering senewen dengan tingkah metromini, mayasari, angkot dan bajaj yang seenaknya berhenti, atau belok gak pakai tanda. Sering juga senewen karena dipepet sama mobil, pas macet mobil terlalu ke kiri jadi gak bisa lewat, kecipratan air genangan hujan dari SUV mewah yang ngebut aja dan macem-macem deh.

Saat jadi mobilers, yah hampir sama kalo soal sama angkutan umum, terus kebalikannya ngeliat tingkah motor yang selap-selip, atau main muncul aja dari gang.

Saat jadi penumpang angkutan umum (entah pas naik Tije, metromini, angkot, bajaj atau taksi), saya sering senewen sama tingkah motor yang selap-selip, atau mobil yang klakson-klakson.

Terus Apa yang terjadi sebenarnya ?

Sebenarnya kalau kita saling menyalahkan (dari sudut pandang tertentu) pihak lain, ini semua gak akan selesai. Yang paling utama adalah, sikap berkendara di jalan itu cerminan dari tingkat kedewasaan dan kesabaran seseorang (teori saya lho).

Misalnya, srudak-sruduk, selap-selip, itu karena kita belum mampu menahan kesabaran kita dan mengontrol emosi. Terus terobos TL (Traffic Light) yang sudah menyala merah, ini karena kita belum dewasa untuk bisa mematuhi peraturan yang sudah dibuat.

Jadi kalo macet (bagi bikers nih ya) harus taat berenti di belakang mobil ? Yah gak juga, ini malah menyebabkan kemacetan tambah panjang. Maksudnya gini, andaipun harus nyelip, harus dengan perhitungan, motor itu kan jalurnya di kiri, pas macet mau nyelip, kita sudah hitung muat gak motor kita lewat di celah itu, setang kita bakalan nyenggol spion mobil gak ? kalau akhirnya memang tidak muat, ya sudah berhenti, jangan paksain untuk naik ke trotoar, ini berarti kita belum cukup dewasa untuk menaati peratura. Terus bagi pengendara mobil, harus memperhitungkan juga, saat macet dan berada di jalur kiri, posisi mobil jangan terlalu menghabiskan jalan bagian kiri yang menyebabkan motor tidak bisa lewat. Kita harus bisa toleransi terhadap pengendara motor yang kepanasan, atau kehujanan.

Introspeksi diri pribadi masing-masing. Baik itu kita sebagai pengendara motor, pengendara mobil, supir angkutan umum bahkan pejalan kaki. Apakah selama ini kita sudah benar-benar dewasa untuk bisa menaati peraturan dijalan ? Apakah rasa toleransi kita terhadap pengguna jalan lain sudah cukup ?

Polemik saling menyalahkan antar pengendara lebih baik dihentikan. Lebih baik sama-sama introspeksi diri, terus sama-sama membahas bagaimana menciptakan suasana jalan yang aman dan nyaman bagi bersama.

Itu dari sisi pengendara.

Sebenarnya semua bukan murni kesalahan pengendara. Pemerintah juga harus bisa menyediakan fasilitas jalan yang memadai bagi masyarakatnya, baik bagi pengendara maupun pejalan kaki. Buatkan jalur khusus pengendara motor (ini lebih relevan dibandingkan pembatasan/pelarangan motor memasuki daerah tertentu). Buatkan akses trotoar yang nyaman dan aman, bebas dari tempat pangkalan ojek atau tempat lapak kaki lima.

Perbaiki layanan transportasi umum. Berikan kemudahan bagi pengusaha bis untuk bisa memperbaharui armadanya yang lebih nyaman, bisa dengan penurunan pajak atau memfasilitasi kredit lunak pembelian armada baru. Gak usah muluk-muluk bikin monorail dulu deh.. perbaiki aja tuh KRL.. semacam di Jepang, kan nyaman tuh, warganya ke kantor naik kereta, berangkat pake kemeja dan dasi, turun kereta masih pake kemeja dan dasi dan tetap wangi, kalo naik KRL disini kan gak bisa begitu, berangkatnya wangi, turun kereta kucel. TransJakarta (busway) itu satu langkah yang cukup baik, cuma sekarang masalahnya jadi terkesan dipaksakan. Penggunaan jalur busway di jalan sudirman-thamrin masih baik karena lebar jalannya masih cukup besar bagi pengguna lain setelah dipotong jalur busway, tapi di daerah Roxy atau Daan Mogot misalnya.. Jadi makin kecil kan tuh jalanan gara2 jalur busway.

Ini semua butuh kerja bersama antara masyarakat dan pemerintah untuk menciptakan jalan yang nyaman dan aman.

Btw, ini ada kutipan surat pembelaan dari bikers untuk pengendara mobil.. cukup rasional.. (ini menunjukkan, masalah di jalan raya telah merembet ke arah masalah kesenjangan sosial.. bisa-bisa terjadi sesuatu kalau gak diperbaiki dari sekarang nih..)
Quote from : www.blogfam.com

Bapak2, ibu2 yth, Sebelumnya saya mohon maaf bila tulisan berikut
kurang berkenan. Kami hanyalah ingin meminta maaf kepada bapak ? ibu
pengguna roda empat mengenai perilaku kami di jalan raya.
Sungguh, kami tidak memiliki maksud untuk 'mengganggu' kenyamanan anda.
Bila kami terlihat suka nyerobot kekanan atau kekiri, itu hanyalah karena
kami merasa kepanasan. Ini tentunya akibat jaket, helm, sarung tangan,
masker, yang kami gunakan di siang bolong. Tentunya rasa kepanasan ini tdk
anda rasakan, karena dinginnya hembusan AC yang keluar dari kisi kisi
dashboard mobil anda. Sedangkan kami hanya mengandalkan kisi kisi ujung
jaket, ataupun bagian bawah helm, he he he.

Bila anda melihat kami mendaki trotoar, ataupun mengambil jalur kanan yang
berlawanan, itupun bukan karena kami sok jago. Tapi kami hanya mencari
alternatif jalur, sebab seluruh badan jalan tertutup oleh MPV ataupun SUV
bapak ?ibu. Rasanya kami nggak kuat jika harus menunggu dibelakang knalpot
anda, yg belum tentu bebas emisi (maaf ya). Belum lagi kami takut di PHK,
hanya karena telat masuk kerja. Tentunya khusus hal ini, sebagian dari
anda tidak perlu absen kan?, kalo masuk kerja?

Sebab kalo sebagian besar dari kami, harus pak-buu... Minimal dipotong uang
transport, hiks!! Belum lagi, kami suka malu bila harus melewati resepsionis nan
cantik yang
menutup hidung kecil mereka, karena mereka mencium aroma knalpot dan 'bau
matahari' dari jaket lusuh kami. Walau deodorant 5 ribuan telah kami
semprot, tentu tidak sebanding dg parfum mobil anda yg 50 ribuan plus
sejuknya AC mobil anda.

Kami sadar kok, kami jg suka keterlaluan. Tapi kami juga gak pernah
memprotes roda empat. Kami cukup tau diri kok, dengan pajak yg super murah
kami, sehingga kami harus rela mengalah bila berbicara tentang parkir.
Kami cukup puas dengan areal 150 x 50 cm sebagai tempat parkir kami. Tentu
berbeda dengan areal parkir bapak-ibu. Memang sih,tarif parkirnya aja beda J.

Hmmm, kami juga gak pernah protes kok, terhadap roda empat yang telah oleh
pemerintah di-anak emaskan. Jalan tol trilyunan rupiah telah dibangun, di
atas gusuran tanah dan rumah kami. Kami harus putar otak mencari tempat
tinggal bagi anak dan keluarga, hanya demi bapak-ibu bisa cepat sampai
tamasya ke ancol ataupun taman safari.

Ngomong2 tentang tamasya. Memang sih, mungkin anda sering melihat kami
berboncengan 3 atau 4 dengan putra putri kami pergi ke dufan. Tapi kami
gak yakin, apakah anda melihat kami, memijit tangan, kaki dan bahu mereka
yang kecil ditempat parkir. Ini karena cara duduk mereka yg sedikit
berakrobat di atas motor kami. Tentunya berbeda dengan lucunya putra-putri
anda yang asyik bermain game di dalam mobil, atau tidur pulas di jok
belakang.

Kami juga gak keki kok, dengan senyum kecil bapak-ibu, bila melihat kami
panik saat hujan turun. Dimana kami harus buru-buru, loncat dari motor,
buka jok motor, copot sepatu, dan mengenakan jas hujan. Terkadang kami
membayangkan, bila kami ada di posisi anda. Mau gerimis kek, mau hujan
gede kek, bodo' amat, cukup putar tuas kecil disamping stir, maka wiper
kaca akan bekerja lembut membersihkan air di kaca depan & belakang. Aaaah
enaknyaa di mobil.

Kami juga gak protes kok, bila mungkin bapak-ibu yang terbiasa
menginstruksikan lembur kepada kami. kami cukup mengerti bila anda tidak
pernah membayangkan, betapa dinginnya pulang kerja di malam hari dengan
motor. Kami cuma berharap, bahwa petuah orang tua, yang mengatakan, kalo
kena angin malam bisa kena paru-paru basah, adalah isapan jempol semata.
Amit-amiiiit.

Kami juga gak protes kok, bila jari jemari anda menjentikkan abu rokoknya
lewat jendela, sehingga mengenai jaket kami. Ataupun celana kami harus
'menerima' sampah, yang anda buang lewat jendela. Mungkin kami dengan
jaket hitamnya, tampak seperti tong sampah kali yeee. Hi hi hi
Mohon maaf juga bila, kami harus terlihat melotot di depan anda. Hmm
sungguh, itu gak sengaja kok, . Sebab selama naik motor, mata kami harus
dipicingkan agar tidak kena debu. Naaah begitu berhenti, secara refleks
mata kami terbuka lebar, seperti melotot, he he he
Maaf ya pak-bu. Peace !!!

Memang siiih, kami sering bikin masalah di jalan raya, tapi setidaknya,
kaum kami belum pernah punya kesempatan bikin masalah buat negara ini.
(Jadi gak enak nerusinnya)

Memang siiih, rata rata dari kami tidak berpendidikan. Walau beberapa
rekan kami masih setia berprofesi pengojek untuk mengantar kaum
berpendidikan nan terhormat ke tujuan, bila mereka diburu waktu atau
hampir terlambat.

Memang siih, rata-rata dari kami gak memiliki tata krama. Karena kami gak
punya cukup uang untuk belajar di tempat kursus kepribadian ataupun
pelatihan image development. (SD aja DO ? hiks!).

Tapi setidaknya, kami cukup tau diri kok, untuk tetap menganggukan kepala
kepada bapak-ibu duluan plus senyum manis, bila kami bertemu anda di
koridor kantor. Ataupun menjauh dari bapak-ibu yang sedang
bercengkrama di lobi menunggu lift, karena celana dan sepatu kami tampak kotor
terciprat air jalanan akibat sedan mewah anda menyalip kami.

Namun kami cukup terhibur kok, bila kami dapat mendengar sayup sayup lagu
kesukaan kami, saat kita bersanding manis di lampu merah. Hilang rasa
penat bahu dan pinggang kami, bila dentuman sound system anda membagi
lagunya lewat kisi kisi jendela. He he he, pernah gak anda melihat kami
juga terkadang mengangguk-anggukan kepala mengikuti lagu anda, walo cuma
10-20 detik. Jadi malu...

Namun kami cukup terhibur kok, dengan sigapnya pak presiden menaiki motor
roda dua untuk meresmikan balapan mobil, hiks. Walau kami tau persis, itu
hanya gara gara terlalu banyak roda empat yang membuat jalan tol menjadi
padat. Sehingga pihak protokoler takut pak Presiden datang telat. Padahal
mesin dan knalpot mobil balap dari negara asing, udah gak sabar buat
melesat, hanya untuk bisa dibilang sebagai yang tercepat, dan rebutan
trophy segede knalpot motor untuk mereka angkat.
What an ironic...

Namun, kami cukup terhibur juga kok, dengan iklan di TV. Dimana banyak
artis nan ganteng dan cantik, artis senior maupun junior, politikus,
budayawan, berebut mengiklankan motor untuk kami. Walau kami tau persis,
gak mungkin mereka pergi shooting atau menghadiri gala dinner dengan motor
bebek. Sebab kami tau persis, mereka gak pernah direpotkan oleh naik dan
turun dari mobil, karena supir nan setia, membukakan pintu belakang bagi
mereka.

Yaahhh, kami gak bermaksud membela diri siih. Kami cuma mau sharing aja
kok, kepada anda pengendara mobil roda empat, bahwa rasa sebel, muak,
benci anda terhadap kami, sudah kami bayar kok dengan kondisi di atas.
Tuhan Maha Adil kan?


Menarik kan suratnya ?

Labels:


Celotehan lengkapnya...
posted by Agung "Gus Portnoy" Sulendro @ 20:56  
Menulis... Bagaimana memulainya ?
Menulis adalah terapi yang bagus untuk otak dan jiwa. Lebih bagus dibanding bercerita dengan seseorang. Mengapa ? Yah karena saat menulis, kita bisa dengan bebas melampiaskan apa saja yang ada di otak kita tanpa ada yang ditutp-tutupi lagi. Coba bayangkan, saat punya masalah dan curhat ke pacar, sahabat atau siapa saja, pasti masih ada batasan-batasan yang kita jaga kan ?

Nah sekarang saya mau membicarakan soal menulis tetapi bukan menulis catatan or diary, tapi menulis sebagai profesi.

Bila dihadapkan pada profesi, entah itu penulis novel, penulis skenario, jurnalis, saya sering mendapat pertanyaan, "Bagaimana sih caranya ? Cara memulainya gimana ? Dapet ilhamnya dari mana? Tata aturan penulisan gimana sih?"
Meskipun saya bukan ahlinya dalam bidang tulis menulis ini, saya hanya ingin membagi pengalaman saya saja.
Begini, tentang bagaimana memulainya ? Yah, misalnya saya dulu saat pertama kali terjun ke dunia jurnalistik, saya juga masih bingung, nanti harus nulis apa, cari bahannya dimana, dan pertanyaan-pertanyaan lain gitu di otak. Tapi akhirnya saya nemu cara mujarab, BANYAK MEMBACA ! Yup, menulis dan membaca itu kan kaitannya erat banget.. nempel kayak perangko istilahnya. Saat memulai jadi jurnalis, saya banyak membaca majalah-majalah lain yang sejenis, saya pelajari gaya bahasanya, alur tulisannya dan lain sebagainya. Nah soal ilham ini, nantinya akan datang sendiri. Misalnya saat saya sedang asyik browsing di forum internet yang membahas soal teknologi, saya baca banyak masalah-masalah dikemukakan disana. Nah itu bisa jadi bahan tulisan.
Itu kalo menulis atau membuat artikel (masih menurut saya lho)

Nah yang ini kalo menulis novel atau membuat ide cerita film/sinetron..

Soal Novel, jujur saja, saya masih agak lemah disini.. Saya lebih tertarik ke penulisan cerita film/sinetron. Alhamdulillah, ada beberapa karya saya yang jadi bahan untuk sinetron.
Nah untuk yang satu ini lebih gampang lagi, cari ide or ilham or inspirasi ceritanya bisa dari mana-mana. Dari pengalaman pribadi misalnya, atau dari pengalaman teman-teman dekat, keluarga atau siapa saja. Kuncinya, banyak memperhatikan lingkungan sekitar, terus banyak ngobrol sama orang. Jangan pilih-pilih, mau dia tukang gorengan, supir taksi, kenek metromini, satpam, karyawan kantoran, direktur, sampai pejabat bahkan kalau perlu sama preman sekalian. Ini jadi memperluas wawasan kita, agar tidak terjebak dengan stereotype penggambaran karakter. Kadang kalau kita lihat sinetron, direktur itu digambarkan selalu berdasi, terus di kantor sukanya tunjuk2 main perintah.. gak cuma sebatas itu kok, ada banyak hal yang bisa digali lagi sebenarnya.

Intinya, dalam menulis, kita harus bisa seketika (instant) memindahkan sisi pandang kita saat sedang menulis, sisi pandang penulis dan sisi pandang pembaca.. agar terjadi keseimbangan di tulisan kita.

Labels:


Celotehan lengkapnya...
posted by Agung "Gus Portnoy" Sulendro @ 18:40  
Sunday, March 11, 2007
Sinetron Monoton! Mari Berubah - Part 2

Terus contoh sinetron yang menarik lainnya (dari sisi cerita) menurut saya adalah DTK (Dunia Tanpa Koma) yang dibintangi Dian Sastrowardojo. Sinetron ini bercerita tentang dunia jurnalistik yang memang tidak memiliki koma, karena selalu berlanjut. Menariknya, selian dari sisi cerita, juga dari sisi pemainnya yang berisi bintang-bintang top. Bahkan Andi Malarangeng (yang sekarang menjadi Jubir Kepresidenan) ikut tampil sebagai bintang tamu. Konon, sinetron ini menjadi salah satu sinetron berbiaya cukup besar. Namun sayang, sinetron ini hanya sempat tayang sebentar. Mungkin faktor cost produksi itu yang menjadi sebabnya.

Untuk penulis skenario, mari membuat sebuah karya cerita sinetron yang tidak monoton. Berikan wajah baru dan kesegaran terhadap dunia sinetron Indonesia. Agar masyarakat tidak bosan.
Memang bila dipertanyakan sola kualitas sinetron kita, para produser dan stasiun televisi selalu berkilah bahwa sinetronnya tidak membosankan, buktinya rating selalu tinggi. Masalah rating yang dibuat oleh suatu badan independen penghitung rating yang menjadi patokan bagi pengiklan untuk beriklan atau tidak di spot sinetron tersebut selalu menjadi alasan. Saya sendiri sampai sekarang masih bingung masalah rating ini. Siapa-siapa saja sebenarnya yang dijadikan responden. Karena kalau saya ngobrol dengan orang-orang dan saya tanya soal sinetron,jawabannya selalu sama, membosankan. Sama semua orang lho, tidak terbatas golongan tertentu atau level tertentu saja. Sama rekan kantor, teman-teman diluar, orang-orang didunia film, tukang nasi goreng, tukang indomie, tukang ojek.. hampir semua level masyarakat. Jawabannya selalu sama.

Untuk sutradara, lebih berkreasi lagi. Buat sinetron tersebut bisa lebih greget. Arahkan pemainnya untuk bisa benar-benar berakting dan tidak terkesan akting sembarangan/monoton. Contohnya hampir disetiap adegan sinetron, bila ada adegan si tokoh marah atau kesal selalu ditampilkan wajah si tokoh yang melotot (dengan mimik yang terkesan dipaksakan tidak natural) dibarengi dengan musik latar terus pengambilan shoot kamera close-in, close-out..

Untuk pemain, apalagi yang muda-muda. Jangan cuma mengandalkan tampang saja. Tunjukin dong kalau kalian layak tuk disebut sebagai aktor/aktris. Lebih berimprovisasi.

Untuk produser, yah kalau bicara soal bisnis memang agak sulit. Anda tentu tidak mau bereksperimen membuang-buang duit banyak dalam sebuah sinetron yang terkesan diluar kebiasaan. Anda pasti inginnya keluar duit sedikit tapi mendapat duit banyak. Semua orang juga berpikir begitu, gak ada yang salah dengan itu. Tapi seperti dalam memancing, tidak mungkin memancing seekor kakap kalo umpannya hanya pelet/cacing kecil. Umpannya harus ikan2 kecil atau potongan daging segar toh. Beri kesempatan penulis skenario dan sutradara tuk berkreasi agar tidak menghambat daya kreativitas mereka.

Ini semua hanya opini saya pribadi.. Tidak bermaksud untuk mendiskreditkan atau membangga-banggakan sesuatu/seseorang/pihak lain.

Maju terus Karya Indonesia !

Labels:


Celotehan lengkapnya...
posted by Agung "Gus Portnoy" Sulendro @ 22:54  
Sinetron Monoton! Mari Berubah - Part 1
Saya tadi membaca sebuah buku "Menulis Skenario...." (lupa judulnya ?) karya (Seth klo gak salah). Buku itu berisi tentang cara-cara menulis skenario yang benar, serta cara tentang menjadi seorang penulis skenario dan hal-hal yang berkaitan dengannya.
Disini saya bukan mau membahas tentang isi keseluruhan buku itu. Tapi tadi pas saya baca di bab-bab awal, ada satu pernyataan yang menarik.
" Seorang penulis skenario dituntu untuk membuat skenario yang memungkinkan untuk skenario tersebut di produksi menjadi sebuah sinetron. Dalam artian daya khayal sang penulis skenario harus dibatasi agar tidak kebablasan. Ini berkaitan dengan biaya produksi dari sebuah sinetron yang juga harus diperhitungkan oleh penulis skenario, apakah nantinya skenario tersebut layak/mungkin atau tidak untuk diproduksi ?"

Mmmh.. pernyataan yang menarik. Dari pernyataan itu, bisa saya sedikit simpulkan bahwa sang penulis skenario tidak perlu muluk-muluk bikin naskah skenarionya. Harus dipertimbangkan, apakah itu mungkin atau tidak diproduksi berkaitan dengan biaya produksinya nanti.
Ini mungkin yang menjadi salah satu sebab, mengapa tayangan sinetron kita selalu membosankan dan ceritanya hanya itu2 saja.
Saya lantas berpikir, masih sangat tidak mungkin production house atau stasiun televisi kita menayangkan/membuat sinetron lokal seperti miniseri luar/hollywood seperti 24, CSI, Hustle, X-Files dan sebangsanya. Mengapa ?
Satu contoh miniseri CSI atau yang ekstrem X-Files. Dari sisi cerita memang rumit sekali dan membutuhkan riset yang sangat mendalam dari si penulis skenario (soal hal ini, saya tidak meragukan kemampuan penulis skenario lokal, ada kok yang sanggup membuat skenario seperti ini). Kemudian kerumitan lain ada di produksinya. Bayangkan saja, untuk membuat satu episode berapa rupiah yang dikeluarkan, bisa beratus-ratus juta, bahkan milyaran (untuk membayar artis, kru, membuat setting dll). Untuk memasukkan satu adegan tembak-tembakan antara polisi dan penjahat ditambah bumbu ledakan dan lain sebagainya pasti dibutuhkan biaya yang cukup tinggi.
Menurut saya, hal-hal seperti ini yang membuat dunia sinetron di tanah air tidak berkembang. Kita selalu diberikan tontonan sinetron yang selalu mirip dari sisi cerita, monoton! Romantisme percintaan antara si kaya dengan si miskin, kehidupan pengusaha kaya raya dengan segala romantikanya.. sungguh membosankan.

Sekarang, mari kita balik. Bila produser tidak ingin membuang banyak uang untuk memproduksi sebuah sinetron (tapi inginnya mendapat uang yang banyak, hukum pasar yang membosankan, sedikit keluar banyak masuk)tuntutan bagi si penulis skenario (dan sutradara)adalah bagaimana membuat sebuah cerita yang menarik dan tidak monoton dengan keterbatasan dana tersebut. Si penulis skenario harus mampu membuat sebuah cerita yang berbeda dengan sinetron yang sudah ada belakangan, dan sutradara dituntut untuk membuat cerita tersebut menjadi sebuah tayangan yang menghentakan masyarakat. Mari membuat trend baru demi penyegaran hiburan di masyarakat.

Satu contoh nih, Film "Jomblo" yang diangkat dari novel-nya Aditya Mulya. Saat saya baca novelnya, memang sangat menarik. Pola atau alur ceritanya tidak seperti novel lain. Aditya terlihat memasukan pola komedi yang sangat menarik dan dekat dengan kehidupan. Nah saat filmnya dibuat, Hanung Bramantyo sang sutradara, mampu menginterpretasikan apa yang ada di novel ke layar lebar. Kemudian sekarang film itu dibuat seri televisinya. Pada episode-episode awal, memang unsur komedinya masih terlihat sama dengan versi film. Namun belakangan terlihat sudah tidak greget lagi. Pola-pola sinetron kebanyakan sudah ikut masuk pula ke sinetron Jomblo ini. Segi percintaan, perselingkuhan dsb. Padahal di novel Jomblo itu, menceritakan bagaimana 4 sekawan (Agus, Bimo, Olif dan Doni) yang kesemuanya jomblo (dengan alasan2 masing2) dalam menjalani kehidupan di dunia perjombloan itu. Di sinetronnya, sekarang malah ceritanya seperti balik ke pola sinetron2 remaja yang biasanya yang membosankan itu.

Labels:


Celotehan lengkapnya...
posted by Agung "Gus Portnoy" Sulendro @ 22:14  
Saturday, March 10, 2007
Menulis Skenario
Sambil nunggu sesi terapi tahap 2, iseng-iseng mampir ke warnet yang ada disebelahnya. Bingung juga mau buka apa, abis otak lagi gak nyambung gini (plus mata sepet bin ngantuk dan badan super lemes).
Baca-baca ke komunitas blogger, cari-cari inspirasi buat bikin blog sama belajar tutorial-tutorial biar blog makin menarik. Terus ketemu satu postingan yang cukup bagus, soal menulis skenario.

Mmmh.. hal yang dari dulu saya coba pelajari. Sekarang sedikit-sedikit sudah bisa menulis skenario dengan format baku (meskipun harus bolak-balik lihat contekan). Ceritanya, ada pasangan penulis skenario(Yeri Hermanto dan Relitha) yang saat ini sedang aktif menggarap skenario sinetron religi di TV swasta yang ngajak blogger-blogger di komunitas itu buat nyalurin bakat menulisnya. Jadi blogger dipersilahkan mengirim sinopsis cerita (tentu saja yang berkaitan dengan tema sinetronnya) ke mas Yeri dan mba Relitha itu.
Nantinya sinopsis-sinopsis yang masuk itu bakalan diseleksi sama mereka buat diajuin ke produser dan pihak stasiun TV. Kalo di tahap ini lolos, baru deh sinopsis itu bakal dibikinin skenarionya trus diproduksi.
Mas Yeri dan mba Relitha juga menjanjikan honor yang cukup menarik buat karya sinopsis ini.
Yah sekarang saya mulai buka-buka lagi file lama saya. Soalnya dulu sempet bikin beberapa sinopsis dan skenario cerita berdurasi pendek.

Buat yang mau belajar jadi penulis skenario atau mau mencoba profesi baru sebagai penulis skenario sama-sama yuk belajar ke Mas Yeri and mba Relitha.

Labels:


Celotehan lengkapnya...
posted by Agung "Gus Portnoy" Sulendro @ 11:15  
Journalist or Copy-Writter ?
Maaf sebelumnya, ini semua cuma pendapat pribadi saya lho.. bukan maksud untuk menilai apalagi mendiskreditkan rekan-rekan sesama jurnalis.


Hampir genap 2 tahun saya terjun (lebih tepatnya kecemplung) di dunia jurnalistik. Sampai akhir febuari kemarin status saya masih jurnalis, jadi saat ini setelah bukan lagi berstatus sebagai jurnalis resmi (lebih enak jadi pengamat dan kontributor) saya mau menceritakan sekelumit pengalaman saya di dunia jurnalistik ini.
Saya dulu memandang seorang jurnalis (or wartawan) itu sebagai sebuah profesi yang teramat mulia dan juga berat. Yah, berat karena harus siap sedia mencurahkan tenaga, waktu dan pikirannya demi menyampaikan informasi/berita kepada masyarakat.
Akhirnya 2 tahun yang lalu kesempatan itu datang. Kesempatan untuk merasakan dunia jurnalistik. Kebetulan saya berkreasi disebuah majalah IT. Yah kalau kata teman-teman senior sih, lebih enteng kerjaannya dibanding media bidang politik atau ekonomi.
Boleh dikatakan, majalah tempat saya berkreasi ini bukan saya anggap sebagai tempat bekerja mencari nafkah, tetapi lebih tempat untuk mengasah ilmu jurnalisme dan ilmu di bidang IT. Saya (dan beberapa teman) bahkan menyebut tempat ini sebagai sebuah Institut. Yup, institut yang mengajarkan berbagai macam hal, mulai manis, asam, getir sampai pahit.
Seiring waktu berjalan, saya semakin merasakan tantangan sebagai seorang jurnalis terasa kurang disini. Memang (mungkin saya salah, tapi ini pendapat saya), Media itu akan terasa sulit untuk menjadi murni penyampai informasi ke publik bila sudah berbenturan dengan masalah bisnis.
Dengan alasan kepentingan bisnis ini pula, saya merasakan seorang jurnalis bukannya membuat opini di masyarakat karena kemurnian jurnalisme, tapi malah memaksakan (atau lebih tepatnya menyetir) opini masyarakat berdasarkan kepentingan bisnis.
Mungkin hal-hal semacam ini banyak dialami oleh jurnalis-jurnalis kita. Kepentingan bisnis mendominasi unsur media. Sehingga Media tidak bisa menjadi sesuatu yang mandiri (independen) sebagai penyuara kebenaran informasi ke publik.
Teknik jurnalisme menuntut seorang jurnalis untuk menginvestigasi sebuah wacana untuk kemudian dijadikan berita/informasi yang akan disampaikan ke publik agar bisa mempengaruhi industri secara keseluruhan seakan dibalik. Jurnalis tidak ubahnya seorang copy-writter yang hanya dituntut untuk membuat berita sesuai pesanan industri.

Semoga dunia jurnalisme di negeri kita bisa semakin baik.
Sudah sepantasnya posisi Jurnalis disejajarkan dengan profesi-profesi ahli lainnya seperti dokter, pengacara atau yang lain.

Labels:


Celotehan lengkapnya...
posted by Agung "Gus Portnoy" Sulendro @ 01:12  
Friday, March 9, 2007
With Honors
2-3 malam kemarin sempet nonton film tengah malam di SCTV kalo gak salah. Judulnya "With Honors". Pemainnya Joe Pesci sama Brendan Fraser. Film lama (produksi tahun 1994 kalo gak salah), tapi ceritanya bagus, bikin terharu dan yang jelas bikin saya lebih bisa belajar soal hidup dan kehidupan.

Ceritanya soal sekumpulan mahasiswa Harvard yang nge-kost bareng. Monty (Brendan Fraser) yang lagi berusaha nyelesein tesisnya di bidang ilmu pemerintahan, Courtney (Moira Kelly) satu-satunya cewek di kostan situ yang akhirnya pacaran sama Monty, Everett (Patrick Dempsey) yang keliatan agak urakan -selain mahasiswa dia juga nyambi jadi penyiar radio-, serta Jeff (Josh Hamilton) si mahasiswa kedokteran yang agak-agak sombong.
Kehidupan mereka berempat, khususnya Monty, berubah saat bertemu dengan seorang gelandangan, Simon (Joe Pesci).

Suatu malam, saat Monty ingin memfoto-kopi naskah tesisnya (karena naskah aslinya di komputer rusak dan hilang), tak sengaja naskah itu jatuh ke gudang sebuah perpustakaan dan ditemukan oleh Simon. Monty meminta naskahnya kembali, namun Simon tidak memberikannya, karena menurutnya saat ini naskah itu milik Simon, dan bila Monty ingin mengambil naskah itu, Monty harus memberikan sesuatu kepada Simon dengan bayaran lembar-lembar naskah tesis tersebut. Dari sinilah kisah itu berjalan.
Seiring waktu, hubungan Simon dan Monty semakin dekat. Simon ternyata bekas seorang ABK kapal niaga yang memiliki penyakit parah dan kronis, dokter memperkirakan Simon hanya punya waktu hidup beberapa bulan saja. Monty yang merasa kasihan dengan hal ini, berusaha membantu Simon.
Simon yang merasa telah melakukan kesalahan besar dimasa lalunya dan kemudian dicampakan oleh keluarga dan teman-temannya, merasa marah mendapat perlakuan "istimewa" dari Monty. Simon merasa tidak perlu dikasihani. Sampai akhirnya, usaha Monty dan teman-temannya ini membuat Simon tersadar bahwa dibalik kesusahan yang dia terima selama ini masih ada orang yang perduli.


Film ini menarik buat saya, karena sikap Monty yang akhirnya "merangkul" Simon untuk menyelamatkannya dari "kehancuran" patut diacungi jempol.

Kita memang sering menilai seseorang dari tampilan luarnya saja, seperti halnya Jeff yang pada awalnya merasa jijik berdekatan dengan Simon, tanpa memperdulikan ada apa dibalik "jubah kotornya" itu yang ternyata tidak selalu menyimpan kenistaan, dan bahkan dibalik tampilan "lusuhnya" itu, Simon memiliki prinsip dan juga pemikiran yang cukup maju dan realistis (dibuktikan saat Simon memberikan argumen di kelas kuliah yang didoseni oleh profesor Pitkannan yang sangat disegani di kampus Monty).

Adakalanya manusia berbuat salah. Simon dimasa lalu pernah melakukan kesalahan dengan meninggalkan keluarganya (istri dan seorang anaknya yang masih kecil) tanpa kabar berita. Ini karena Simon bekerja menjadi ABK kapal yang harus bepergian sepanjang tahun. Hal ini memang salah, namun kemudian Simon sadar dia telah melakukan kesalahan dan berusaha untuk memperbaikinya (diceritakan saat Simon sekarat, dibantu Monty dan teman-temanya, Simon mengunjungi anak semata wayangnya yang dulu ditinggalkan untuk meminta maaf, namun permintaan maaf itu tidak diacuhkan oleh anaknya Simon ini). Betapa sakit hatinya Simon karena permintaan maafnya tidak diterima. Penyakit dan derita sebagai gelandangan yang dihadapi Simon belakangan itu merupakan hukuman buat dirinya karena kesalahan-kesalahan masa lalunya. Bagaimanapun, seharusnya ini sudah cukup, yang dibutuhkan Simon adalah diterima maafnya. Butuh Jiwa besar untuk meminta maaf atas kesalahan yang pernah dilakukan, tapi butuh Kedewasaan dan Kebesaran Hati untuk mau memaafkan kesalahan orang lain, diminta ataupun tidak.

Pelajaran yang cukup berharga.

Labels:


Celotehan lengkapnya...
posted by Agung "Gus Portnoy" Sulendro @ 20:45  
Wednesday, March 7, 2007
2007. Tahun Musibah dan Bencana ?

Tahun 2007 baru memasuki bulan ketiga, namun negeri kita ini sudah dihadapkan kepada serangkaian bencana dan musibah. Ada apa gerangan ?

Awal tahun 2007, tepatnya tanggal 1 Januari 2007. Sebuah pesawat Boeing 737-400 dari maskapai Adam Air dengan nomor penerbangan DHI574 menghilang di wilayah Mamuju, Ujung Pandang. Pesawat jurusan Surabaya-Manado itu diketahui kehilangan kontak. Hingga saat ini, lokasi jatuhnya pesawat ada di daerah perairan sekitar Ujung Pandang di kedalaman 200 meter. Unsolved Mistery !

Sebuah pesawat Batavia Air bernomor penerbangan JP 632 mendarat darurat di Bandara Sam Ratulangi Medan. Kendala teknis membuat pesawat tujuan Balikpapan itu harus kembali mendarat ke bandara Sam Ratulangi setelah 15 menit mengudara.
Unsolved Mistery !

Sebuah pesawat Airbus A320 milik maskapai Mandala Air yang lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta Jakarta dengan tujuan Ambon mendarat kembali setelah mengudara 20 menit. Kerusakan teknis pada roda pendaratan adalah sebabnya.
Unsolved Mistery !


Akhir Januari 2007, Jakarta kembali dilanda banjir. Hampir sebagian wilayah Jakarta terendam banjir. Banjir siklus 5 tahunan ini memang cukup besar. Upaya mengatasi dan menanggulangi banjir di Jakarta sampai saat ini masih belum bisa didapatkan.
Unsolved Mistery !

Pertengahan Febuari 2007, pesawat Adam Air nomor penerbangan KI 172 jurusan Jakarta-Surabaya tergelincir saat mendarat di Bandara Juanda surabaya. Kondisi pesawat cukup parah, bagian tengah pesawat retak dan hampir terbelah. Tidak ada korban jiwa.
Unsolved Mistery !

Kapal penumpang motor, KM Levina I terbakar di selat Jakarta. Penyebab kebakaran (dugaan sementara) berasal dari car-deck di bagian bawah kapal. Beberapa penumpang ikut jadi korban. Tidak berhenti disitu, pada saat tim KNKT bersama sejumlah wartawan sedang meninjau kapal yang terbakar ini, kapal kemudian tenggelam dan menewaskan beberapa orang, termasuk kepala forensik dan wartawan Lativi dan SCTV.
Unsolved Mistery !

Gempa berkekuatan 5,8 skala richter mengguncang Solok-Sumatera Barat. Gempa hebat ini menghancurkan beberapa bangunan dan rumah warga. Hingga saat ini tercatat lebih dari 70 orang tewas pada musibah ini.
Unsolved Mistery !


Pagi tadi, sebuah pesawat Garuda Indonesia jurusan Jakarta-Jogjakarta meledak dan terbakar di Bandara Adisucipto Jogjakarta. Dari 133 penumpang dan awak pesawat, 22 penumpang dilaporkan meninggal.
Unsolved Mistery !

Gempa dengan kekuatan diatas 5 skala richter baru saja dilaporkan telah mengguncang kawasan NAD. Belum dilaporkan soal kerusakan ataupun korban jiwa.
Unsolved Mistery !


Itu semua belum bisa merangkum semua musibah dan bencana yang tengah berlangsung di Indonesia.

Sebagai seorang yang beragama, kita melihat semua musibah dan bencana yang melanda negeri kita ini sebagai sebuah peringatan dari Yang Maha Kuasa agar kita lebih bisa introspeksi diri dan juga semakin meningkatkan ketakwaan kepada-Nya.
Tidak perlu kita menyalahkan pihak-pihak lain, seperti ini semua karena semakin merajalelanya korupsi, kasus asusila dll. Yang penting, kita harus introspeksi diri sendiri.
Kesalahan Apa yang sudah Saya lakukan selama ini ?
Sudah bertobat dan meminta ampunkah Saya pada Yang Maha Kuasa ?
Memperbaiki diri agar menjadi lebih baik, sudahkah itu Saya lakukan ?

Sebagai seorang masyarakat, Saya menilai semua musibah ini menunjukkan kurangnya kontrol pemerintah, jajaran terkait dan operator transportasi terhadap keselamatan transportasi. Selama ini yang dipikrikan selalu hanya bagaimana caranya mendapatkan untung dengan modal pengeluaran yang kecil.
Pemerintah juga harus kembali memperbaiki sistem penanggulangan bencana/musibah dengan lebih baik.

Marilah kita semua introspeksi terhadap diri sendiri. Janganlah menyalahkan pihak-pihak lain. Cobalah berpikir melingkar dan jangan dari satu sudut pandang saja. Ada akibat pasti ada sebab. Sebabnya ini bermacam-macam, cobalah kita introspeksi diri masing-masing.


Labels:


Celotehan lengkapnya...
posted by Agung "Gus Portnoy" Sulendro @ 20:18  
Celoteh Today
Allah swt selalu mengampuni dan menerima tobat manusia yang berbuat dosa dan mau bertobat serta meminta ampunan. Manusia adalah gudangnya salah dan khilaf, maka bertobatlah dan selalu memohon ampunan pada-Nya. Memohon ampunan dan bertobatlah pada-Nya bila kita berbuat dosa. Meminta maaflah bila kita berbuat salah terhadap sesama. Memberi maaflah pada sesama, diminta ataupun tidak. Karena yang demikian itu lebih mulia. Dendam dan amarah adalah sesuatu yang dilaknat Allah, karena itu adalah perbuatan iblis. Minal Aidin wal Faidzin, Mohon maaf lahir dan bathin. Semoga Allah selalu mengampuni dosa-dosa kita.
Si Penceloteh

Name: Agung "Gus Portnoy" Sulendro
Home: Jakarta, Indonesia
About Me: Saya hanyalah seorang manusia biasa yang gemar sekali menulis dan mencurahkan apa yang ada di pikiran dan hati saya pada tulisan. Seringkali pikiran dan hati saya terlalu kreatif berpetualang jauh sekali hingga tubuh tak mampu mengikuti, hingga akhirnya petualangan pikiran itu saya curahkan lewat tulisan.
See my complete profile
Previous Post
Archives
My Fav. Links
Powered by

Free 

Blogger Templates

BLOGGER BlogFam Community Jangan Asal Copy PasteImage Hosted by ImageShack.us Ingin Punya Hosting Pribadi? Klik Aja Disini (Rumahweb)

IP Address

IP Anda:

Anda Berada Di Negara:

Detikinet
Celoteh Musik

Undang Dream Theater Yuuk...